Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Secret Admirer (Juang II)

Bagaimana bisa aku bergantung padamu? Bahkan kita belum bertegur sapa. Bagaimana bisa aku bergantung padamu? Bahkan kita belum dipertemukan di peraduan. Bagaimana bisa aku bergantung padamu? Bahkan Tuhan belum menghalalkan kita untuk saling bersama. Betapa hebatnya Tuhan yang membuat besar pesonamu. -Dini hari di Bulan September- 1.30

Juang

Hei, kamu, yang pernah kita berjuang bersama, yang sesungguhnya jarak kita dekat selama ini. Habiskan malam bersama di jauh seberang. Tapi Tuhan tetap membuat kita tetap dekat. Tutur katamu. Baik budimu. Indah parasmu. Sederhanamu. Berbeda. Meskipun tak lama. Tapi terukir jelas dalam ingatku. Terbawa ke alam mimpi. Kini perjuanganku telah berakhir. Bagaimana denganmu? Kuharap kaupun sama denganku. Jika tidak, doaku menyertaimu. Tetaplah berjuang. Segera tuntaskan perjuanganmu. Agar kelak kita bisa kembali bersua di penghujung rindu, di akhir perjuangan yang sesungguhnya. Semoga. 6-7 Sept 17. MKA

Raksasa Istana

Kenapa kamu seperti raksasa? Seperti pilar kokoh istana. Dan aku seperti pintunya. Itulah yang kuucapkan padamu setelah sekian menit kita menyusuri setapak tanpa suara. Kamu begitu menikmati semilir angin malam dibawah taburan bintang di langit Verona dengan jemariku di sela jemarimu. Kuturunkan lenganku yang tidak kau genggam. Bukan kuturunkan sebenarnya. Kau yang menurunkannya. Biar kuingat di memori otakku. Kameramu bisa saja rusak. Gambar bisa saja hilang. Biar kuingat. Kau katakan itu. Kurasakan pipi kanan basah setitik. Tapi aku tidak mau kau adalah pilar istana. Aku tidak mau menjadi pintunya. Aku mau menjadi permaisuri. Aku mau kau menjadi pangerannya. Karena pilar istana bisa saja roboh. Karena pintu bisa saja jebol didobrak. Tapi permaisuri tetaplah takdir bagi pangerannya, tidak peduli apapun. Aku mau menjadi takdirmu. Aku mau kau menjadi takdirku. Karena pilar istana bukan takdir bagi pintu. Terima kasih telah menunjukkanku istana. Meskipun aku tak mengingatnya bahw...

Kamu, Gravitasiku

Ketika rumah dengan hangatnya tak lagi sanggup menyelimutiku Jauh… Ketika angin membawaku tak tentu arah Ketika matahari tak mampu menunjukkan arahku pulang Ketika bintang di gelap malam tak cukup menerangi jalanku Ketika bulan dengan gagahnya tak jua menuntunku Kamu, gravitasiku Tempatku kembali Inspired from a song: Gravity by Leo Stannard Featuring Frances

CUKUP

Cukup hanya dengan memandangmu di setiap hariku, sudah cukup bagiku Tak mengapa aku relakan hari-hariku menantimu Menanti penghuni hatimu menjadi bukan lagi dia Cukup hanya dengan memandangmu di setiap hariku, sudah cukup bagiku Tak mengapa, aku relakan senyum indahmu kini untuknya Menahun ku mengharap tawamu kan lepas, tak lagi ketika kau bersamanya Cukup hanya dengan memandangmu di setiap hariku, sudah cukup bagiku Senang rasaku melihatmu bahagia meski kau bunuh hari-harimu bersamanya Meski bukan bersamaku kau jalani hari-harimu Tak mengapa aku Cukup hanya dengan mengagumi dari jauh aku Cukup ku tahu kau bahagia habiskan detik-detik waktumu Cukup memandangmu dari jauh aku