Kenapa kamu seperti raksasa? Seperti pilar kokoh istana. Dan aku seperti pintunya. Itulah yang kuucapkan padamu setelah sekian menit kita menyusuri setapak tanpa suara. Kamu begitu menikmati semilir angin malam dibawah taburan bintang di langit Verona dengan jemariku di sela jemarimu. Kuturunkan lenganku yang tidak kau genggam. Bukan kuturunkan sebenarnya. Kau yang menurunkannya.
Biar kuingat di memori otakku. Kameramu bisa saja rusak. Gambar bisa saja hilang. Biar kuingat. Kau katakan itu.
Kurasakan pipi kanan basah setitik.
Tapi aku tidak mau kau adalah pilar istana. Aku tidak mau menjadi pintunya. Aku mau menjadi permaisuri. Aku mau kau menjadi pangerannya. Karena pilar istana bisa saja roboh. Karena pintu bisa saja jebol didobrak. Tapi permaisuri tetaplah takdir bagi pangerannya, tidak peduli apapun. Aku mau menjadi takdirmu. Aku mau kau menjadi takdirku. Karena pilar istana bukan takdir bagi pintu.
Terima kasih telah menunjukkanku istana. Meskipun aku tak mengingatnya bahwa itu yang selalu aku impikan.
Kuusap ujung mataku. Kurasakan basah. Baru kusadari itulah asal air yang membasahi pipi kananku, dan kiriku kini. Dan tak lagi setitik.
Ketika aku bangun besok pagi, berjanjilah, tunjukkan aku istana. Berjanjilah, selalu tunjukkan aku. Supaya aku kembali ingat. Selalu. Selalu tunjukkan aku. Berjanjilah. Agar aku kembali menanyakan padamu. Kenapa kamu seperti raksasa?
Inspired from a Thai movie: One Day
Biar kuingat di memori otakku. Kameramu bisa saja rusak. Gambar bisa saja hilang. Biar kuingat. Kau katakan itu.
Kurasakan pipi kanan basah setitik.
Tapi aku tidak mau kau adalah pilar istana. Aku tidak mau menjadi pintunya. Aku mau menjadi permaisuri. Aku mau kau menjadi pangerannya. Karena pilar istana bisa saja roboh. Karena pintu bisa saja jebol didobrak. Tapi permaisuri tetaplah takdir bagi pangerannya, tidak peduli apapun. Aku mau menjadi takdirmu. Aku mau kau menjadi takdirku. Karena pilar istana bukan takdir bagi pintu.
Terima kasih telah menunjukkanku istana. Meskipun aku tak mengingatnya bahwa itu yang selalu aku impikan.
Kuusap ujung mataku. Kurasakan basah. Baru kusadari itulah asal air yang membasahi pipi kananku, dan kiriku kini. Dan tak lagi setitik.
Ketika aku bangun besok pagi, berjanjilah, tunjukkan aku istana. Berjanjilah, selalu tunjukkan aku. Supaya aku kembali ingat. Selalu. Selalu tunjukkan aku. Berjanjilah. Agar aku kembali menanyakan padamu. Kenapa kamu seperti raksasa?
Inspired from a Thai movie: One Day
Komentar
Posting Komentar