Langsung ke konten utama

Siapa Jodohku?

Jumat lalu (13/7), di dalam bis kampus, saat menunggu berangkat tiba-tiba kepikiran tentang jodoh. Penasaran. Siapa ya jodohku? Beberapa hari sebelumnya, aku baru sempat baca kiriman beberapa isi seminar online yang sebenarnya sudah beberapa waktu lalu diikuti sahabatku. Narasumbernya penulis muslimah yang sudah menikah. Buku yang ditulisnya berjudul OTW Halal. Hal yang paling aku ingat adalah bagaimana dia bertemu suaminya. Dia pernah pacaran, tapi sudah taubat dan dia menyesal bukan main katanya. Dia juga pernah mengagumi dalam diam, dan menurutnya itu ngga ada ujungnya. Hindari mengagumi dalam diam katanya, kurang lebih intinya seperti itu yang aku ingat. 

Suatu hari dia memantapkan hati dan berniat untuk menikah, padahal belum ada calonnya, belum ada yang melamar. Tapi dia sudah menyampaikan niatnya itu ke neneknya, orang yang selama ini mengasuhnya, karena dia yatim piatu. Saat itu dia baru beberapa bulan kerja setelah lulus kuliah. Saat di kantor, masih di jam kerja, seorang laki-laki tiba-tiba mengiriminya pesan via whatsapp. Tanpa basa-basi, yang laki-laki itu tanyakan adalah 'Sudah ada yang khitbah?'. Penulis itu jawab, 'Belum. Kenapa? Ada yang mau dikenalin?'. Aku lupa persisnya kata-katanya bagaimana, tapi yang jelas itu intinya. Laki-laki itu jawab, 'Kalo aku khitbah boleh?'. Penulis itu bilang laki-laki itu bahkan cuma bertemu sekali dengannya. Mereka kenalan di suatu acara pelatihan saat coffe break. Sekedar basa-basi antarpeserta pelatihan hanya di saat coffe break. Dan laki-laki itu tahu kontak penulis itu dari bertukar kartu nama di akhir acara pelatihan itu. Cuma saat itu mereka berinteraksi. Kalau tidak keliru, penulis ini ngga kunjung membalas pesan whatsapp terakhir tadi, sehingga laki-laki ini mengirim pesan lagi, 'Kalau boleh, aku mau kirim proposal hidup dan proposal nikah (kalo aku ngga keliru) ke email kamu'. Penulis jawab, 'silahkan' (kalau aku ngga keliru lagi). Laki-laki betul-betul langsung mengirim proposalnya ke email penulis itu. Saat penulis baca proposal laki-laki itu, subhanallah, visi & misi hidup laki-laki itu sama persis dengan visi & misi hidup penulis. Saat aku baca itu, langsung merinding. Ternyata sebelum kirim pesan whatsapp, laki-laki itu sudah khatam sosial media si penulis. Ngga lama setelah itu, si laki-laki datang ke rumah penulis untuk pertama kalinya. Si laki-laki tinggal di beda kota atau beda pulau, aku lupa, yang jelas jauh. Dan saat datang, itu adalah pertemuan keluarga besar mereka. Yang ada di bayanganku, itu seperti acara lamaran. Kurang lebih setelah itu, mereka resmi menikah. Intinya dari pengalaman penulis ini adalah mantapkan hatimu dan niat! Insya Allah dimudahkan bertemu jodohmu. Dan untuk promosi diri sebagai usaha mencari jodoh, rapikan postingan sosial mediamu! Kurang lebih seperti itu yang aku dapatkan dari cerita penulis itu.

Ada lagi kisah nyata pasangan nikah tanpa pacaran lain yang aku tahu, entertainer, stand up comedian dari Indonesia Timur, Abdur Arsyad. Aku baca cerita gimana dia akhirnya nikahi istrinya dari blognya. Aku suka sama stand up comedian. Mereka bisa bicara dengan rapi di depan umum, dengan susunan kata-kata yang terstruktur, pilihan kata yang pas. Seakan-akan mereka bacakan isi buku pelajaran yang susunan kata atau kalimatnya yang terstruktur, mereka hafal, terus diomongkan di atas panggung. Aku tahu dari hasil nonton SUCI, mereka memang harus tulis materi stand up comedy mereka, makanya bisa terstruktur. Tapi tetap aku iri & terkagum-kagum lihat mereka ngomong di atas panggung. Oleh karena aku suka cara mereka ngomong di atas panggung di depan umum, aku pikir tulisan mereka pasti bagus. Dari twitter, aku tahu Abdur nulis di blog. Salah satu postingannya adalah tentang gimana di akhirnya nikahi istrinya. Menurutku ceritanya kurang begitu detail, karena aku memang bukan fans Abdur garis keras, makanya aku ngga tahu mulanya. Tapi aku bisa sedikit menebak, mereka dulunya teman satu komunitas stand up comedy di Malang. Nama istri Abdur adalah Sindy. 

Setelah Abdur jadi entertainer di Jakarta sepertinya mereka jarang berinteraksi secara personal. Sampai suatu hari, Sindy kirim pesan ke Abdur, dia bilang mau ke Jakarta dan butuh tumpangan untuk tinggal. Otomatis Abdur mengusahakan untuk mencari tempat untuk Sindy bisa tinggal, karena kalau tidak keliru, saat itu Abdur masih sewa kamar kos untuk dirinya tinggal sendiri. Aku lupa tepatnya obrolan mereka. Di tengah-tengah obrolan mereka tentang tumpangan tinggal Sindy yang mau ke Jakarta, Sindy menyeletuk, 'Dengar-dengar, Bang Abdur mau nikah tapi ngga tau sama siapa ya?' Abdur membenarkan. Sindy bilang, 'Aku juga pengen nikah, tapi ngga tahu sama siapa'. Sekedar celetukan sederhana itu, tapi dengan niat, 4 hari setelahnya mereka lamaran, 3 bulan setelahnya resmi menikah. Subhanallah. 

Dari dua cerita tadi, di bis kampus itu aku berpikir. Begitu cara Tuhan mengatur jodoh kita. 
Bisa saja jodoh kita ternyata teman sekelas yang jarang ngobrol dengan kita.
Bisa saja jodoh kita ternyata teman TK/SD/SMP/SMA/kuliah kita.
Bisa saja jodoh kita ternyata teman bimbel beda sekolah saat kita SD/SMP/SMA yang bahkan kita sekarang sudah lupa nama & wajahnya.
Bisa saja jodoh kita ternyata teman sekolah kita dulu yang belum pernah bertemu di reuni atau manapun sejak lulus tapi seringkali kita lewat depan rumahnya, beberapa kali diantaranya dia kebetulan membuka pintu rumahnya dan melihat ke arah jalanan dimana kita kebetulan lewat.
Bisa saja jodoh kita ternyata tetangga depan rumah kita atau tetangga belakang rumah kita atau mantan tetangga kita.
Bisa saja jodoh kita ternyata orang asing yang tanya dimana masjid/gedung A/B/C di kampus kita.
Bisa saja jodoh kita ternyata orang asing tepat di belakang kita atau dua antrean di depan kita atau dia baru antre saat kita sudah beres antrean dan sempat berpapasan dengan kita di depan bank.
Bisa saja jodoh kita ternyata orang asing yang pernah berkendara searah, berada 2 meter di belakang kendaraan kita saat di traffic light atau kendaraannya pernah menyenggol spion kita atau dia berkendara & menghalangi jalan kita yang ingin belok kiri tapi dia berhenti di traffic light terlalu ke kiri karena ramai padahal dia berniat lurus.

Komentar