Langsung ke konten utama

Untukmu Sahabatku (Sahabat II)

January 31st, 2016


Aku telah lama tak membuat postingan baru di blogku ini. Dan hari ini aku mendapat pesan via Whatsapp dari sahabat-sahabatku yang membuatku tergerak untuk menulis sesuatu disini berkat obrolan dengan mereka.

Mereka yang kusebut sahabat tadi tidak mudah buatku untuk menyebut mereka sebagai SAHABATku sebelumnya. Aku memiliki pemikiran tersendiri mengenai arti sahabat. 

Menurutku, sahabat itu mirip pasangan hidup. Bukan pacar. 

Sahabat itu mereka selain keluarga, yang telah lama mengenal kita. Bukan mereka yang baru mengenal kita beberapa bulan, yang hanya tau alamat kos kita, bukan rumah tempat tinggal kita sesungguhnya, yang belum tahu kita sering memakai baju seperti apa di rumah, ketika selesai mandi atau ketika tidur. Bukan mereka yang baru beberapa kali mengunjungi rumah kita & bertemu orang tua maupun keluarga kita. Bukan mereka yang canggung & enggan mengobrol dengan keluarga kita ketika mereka berkunjung ke rumah kita. Bukan mereka yang belum tahu keluarga kita memanggil kita dengan nama panggilan apa. Bukan mereka yang belum tahu nama saudara yang tinggal serumah dengan kita. Bukan mereka yang belum tahu berapa jumlah saudara kandung kita, baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal sekalipun. Bukan mereka yang belum tahu apa orang tua kita adalah orang tua, atau salah satunya adalah kandung atau tiri. 

Sahabat itu TIDAK SELALU ada disamping kita. Sahabat itu tetap menjaga komunikasi meski berjauhan, meski jarang bertemu, bahkan satu bulan pun mungkin saja kita tak berjumpa sama sekali, sekalipun berkali-kali telah menyusun rencana untuk bertemu & berkali-kali pula rencana itu gagal dengan berbagai alasan yang kita selalu bisa memakluminya, tanpa jengkel, marah, dendam yang menjamur hingga berhari-hari. Ketika kita telah lama mengenal seseorang kita pasti memahami bahwa bertemu untuk menghabiskan waktu bersama bukanlah prioritas, karena setiap dari kita pasti memiliki berbagai urusan tersendiri yang harus dijalani. Tapi selalu ada cerita yang dibagikan ketika bertemu. Sahabat itu selalu memiliki cara untuk membuat waktu bertemu atau berkumpul bersama menjadi waktu yang akan menjadi kenangan kelak. 

Sahabat itu mereka yang menunjukkan penampilan paling sederhananya ketika bertemu dengan kita. Bukan mereka yang memaksa atau selalu berdandan dengan make-up mahal atau tatanan rambut paling up to date sebelum bertemu kita. Bukan mereka yang memakai pakaian, sepatu, tas, hijab, asesoris, hijab dengan model terbaru & merk terkenal yang up to date saat bertemu dengan kita. Tapi sahabat itu mereka yang cukup memakai bedak tipis saat bertemu kita. Mereka yang bahkan tak malu dengan muka bantalnya menemui kita. Mereka yang tak malu memakai pakaian kesayangan mereka yang saking sayangnya sampai warna pakaian mereka telah pudar & terdapat lubang-lubang kecil yang bahkan dengan sengaja, tanpa malu mereka pamerkan pada kita saat bertemu kita.  

Sahabat itu mereka yang tidak akan puas hanya dengan mengambil belasan foto bersama kita saat sedang berkumpul bersama, akan menumpuk puluhan atau bahkan ratusan foto bersama di handphone kita setelah berkumpul bersama mereka. Sahabat itu mereka yang tak malu untuk melakukan hal-hal memalukan di depan kita. Sahabat itu mereka yang tak malu untuk sendawa, mengupil atau bahkan kentut sekalipun saat berkumpul dengan kita. 

Aku telah menemukan SAHABATku. Kita saling kenal sejak aku kelas 1 SD. Lebih dari 15 tahun sampai sekarang aku mengenal mereka. Tidak seperti cerita persahabatan 5 orang di film 5 cm, yang tak sekalipun mereka melewatkan satupun malam minggu tanpa berkumpul bersama. Aku dengan sahabatku tidak seperti kelima orang di film itu. Kami tak pernah satu sekolah sekalipun, sejak SD, SMP, SMA, bahkan kuliah, membuat kami semakin jarang bertemu. Meski begitu, kami telah saling mengenal selama 15 tahun lebih. Itu bukan waktu yang sebentar. Telah menumpuk foto-foto saat kami berkumpul bersama, mungkin totalnya sudah ribuan tersimpan di laptopku. 

Ya, bersahabat dengan mereka selama 15 tahun lebih hingga saat ini. Aku sangat bersyukur dan tak pernah menyesal memiliki mereka sebagai sahabatku. 

Tak salah aku menyebut sahabat itu mirip pasangan hidup di awal tulisanku ini. Terkadang aku cemburu. Aku cemburu ketika aku tahu sahabatku lebih sering berkumpul dengan teman-teman sekolah atau kampusnya dibandingkan dengan aku. Aku cemburu ketika aku tahu sahabatku telah memiliki pacar dan sahabatku lebih sering pergi dengan pacarnya dibanding dengan aku. 

Tak salah aku menyebut sahabat itu mirip pasangan hidup di awal tulisanku ini. Ketika sahabatku mendapat masalah atau musibah, tanpa dikomando aku turut sedih, marah, atau prihatin atas masalah atau musibah yang menimpanya. Maafkan aku yang miskin nasehat & tidak bisa banyak membantumu selama ini, sahabatku. Suatu keadaan membuatku turut membuatku merasakan apa yang dirasakan sahabatku di suatu masalah. Aku sama sekali tak pernah mendapat masalah seperti itu. Mungkin karena rasa empati yang begitu besar.

Tak salah aku menyebut sahabat itu mirip pasangan hidup di awal tulisanku ini. Percayalah, sahabatku, aku turut senang ketika kamu senang dan aku bisa turut sedih ketika kamu sedih tanpa kamu tahu. Aku turut senang ketika sahabatku diterima kuliah di jurusan yang dia inginkan. Aku turut senang & bangga ketika sahabatku telah bisa mendapat upah atas jerih payahnya sendiri, sementara aku masih benar-benar bergantung pada orang tuaku. Aku turut sedih ketika sahabatku sedih atau rindu karena saudaranya tak lagi tinggal serumah dengannya karena urusan sekolah atau kerja. Aku turut sedih ketika sahabatku terlibat debat kecil karena masalah sepele dengan keluarganya. Aku turut prihatin ketika sahabatku mendapat masalah dengan teman-teman sekolah, teman dekat atau pacarnya.

15 tahun bukanlah waktu yang singkat. Aku bahkan tak percaya kita masih menjalin persahabatan ini. Setelah berbagai rencana masa depan tentang kuliah di luar kota, kuliah di luar negeri, pindah rumah. Saat itu aku tak yakin. Kalau saja salah satu dari itu terjadi, mungkin awal tahun ini kita tak bisa berkumpul bersama seperti biasanya. Tapi kita bisa melewati lebih dari 15 tahun bersama. Tuhan menakdirkan kita masih tetap dekat, bisa dengan mudah berkumpul kapanpun kita inginkan. Sempat terbayang salah satu dari kita harus pergi. Entah pergi kemanapun. Waktu yang telah kita lewati sudah terlalu lama. Pasti sulit seandainya harus kehilangan kalian. Aku tak tahu lagi dengan siapa aku harus berkumpul di kafe di hari libur hingga bisa tertawa lepas, mengambil puluhan foto bersama, melakukan hal-hal memalukan tanpa merasa malu, ataupun menonton film horor bersama. Cuma dengan kalian.

Sahabat, terima kasih telah menjadi sahabatku. Maafkan kesalahan & kekuranganku selama ini. Tegur aku kalau aku melakukan kesalahan. Aku sungguh berharap bisa menjadi sahabat terbaik kalian.

  

Komentar