“Ke kantin yuk, Fit!” Andra menepuk pundak Fitri. Fitri yang sedang
menulis catatan Fisika tersentak.
“Eh kamu tuh, Ndra hobi
banget bikin kaget anak orang” sungut Fitri.
“Hehehe abis perut lagi
laper banget nih, Fit” Andra cengengesan.
“Alibiiii!” Fitri
meninju lengan Andra kemudian kembali asyik dengan catatannya.
“Aaah. Buruan deh,
Fit!” Andra kini menarik-narik lengan Fitri. Fitri berusaha bertahan.
“Iya iya, Ndra!” Fitri
beranjak berdiri.
Berjalanlah mereka
berdua menuju kantin.
Andra dan Fitri teman sekelas sejak kelas 10
hingga kelas 12. Mereka bersahabat sejak kelas 7. Sebenarnya mereka sudah
saling kenal sejak SD karena rumah mereka bersebelahan. Tetapi, saat SD mereka
tidak duduk di sekolah yang sama. Barulah di SMP mereka belajar di sekolah yang
sama dan sejak saat itulah mereka mulai dekat dan bersahabat.
Fitri merupakan anak gadis tunggal cantik dengan
tubuh bak model didukung kekayaan orang tuanya sehingga membuatnya cukup akan
kebutuhan yang ia inginkan. Ia juga murid pintar. Andra dan Fitri sering belajar bersama di rumah
mereka secara bergantian. Andra adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Adik
perempuannya duduk di kelas 9. Orang tuanya juga berkecukupan, tak kalah dengan
orang tua Fitri.
“Ndra, kamu masih niat kuliah di
arsitektur UI?” ucap Fitri tiba-tiba sambil meletakkan sumpit di mangkuk mi
ayam yang telah habis.
“Eh, iya dong, Fit. Kan seru tuh kalo kita berdua sama-sama
keterima di arsitektur UI. Ya, nggak? Tapi pilihan keduaku ilmu komputer UI
kalo aja aku nggak keterima. Emang
kenapa?” Andra bersungut-sungut sambil mengelap mulutnya. Andra paling semangat
bila membahas jurusan kuliahnya itu. Dia optimis sekali. Di sela-sela belajar
bersama, Andra dan Fitri sering menyempatkan menggambar desain rumah maupun
bangunan apapun. Desain-desain mereka selalu variatif. Anehnya dari keluarga mereka berdua tak ada
satupun yang seorang arsitek. Hobi mereka itu bermula ketika mereka duduk di
bangku SD dan berlanjut hingga sekarang.
”Oh, nggak apa-apa. Tanya aja” kata Fitri.
”Eh, Fit, ngomong-ngomong pilihan keduamu nanti
apa?” Andra penasaran.
”Hhmm ilmu kesehatan masyarakat. Tapi tetep kan pilihan pertama? Semangat
arsitektur UI!” Fitri mengacungkan tangan kanannya yang mengepal.
”Semangat arsitektur UI!” Andra setengah berteriak
tak kalah semangat.
Wajar kalo mereka membicarakan jurusan kuliah
mereka. Ujian SNMPTN sudah makin dekat. Dua minggu lagi mereka menghadapi UN. Andra
dan Fitri sudah sangat siap menghadapi UN. Maklum, mereka selalu masuk
peringkat 5 besar sejak kelas 10.
Hari H pun tiba. Mereka sukses melewati hari
pertama UN dengan senyum sumringah. Dan itu berlanjut hingga hari terakhir.
Andra dan Fitri makin tak sabar menanti ujian SNMPTN.
”Fit, besok aku mau ambil formulir di UI. Kamu
bareng aku yuk!“ kata Andra lewat telpon.
”Nggak usah, Ndra. Aku besok dianter Mama”, sahut
Fitri. Sebenarnya ia ingin sekali mengambil formulir dengan Andra. Tapi apa
daya, Mamanya ingin mengantarkan Fitri ke UI untuk mengambil formulir.
”Yah kok gitu sih, Fit. Aku kan pengen kita apa-apa bareng-bareng.
Ambil formulir bareng, ngembaliin formulir bareng, tes SNMPTN bareng, OSPEK
bareng, berangkat kuliah bareng, semuanya bareng kamu, Fit. Ayolah!” Andra
bersemangat, berharap Fitri berubah pikiran. Dan meminta mamanya untuk tidak mengantarkannya.
”Hhmm gimana ya, Ndra, sebenarnya
aku juga pengen bareng kamu. Tapi Mama bilang Mama mau nganterin aku. Entar ya aku ngomong sama Mama
dulu. Nanti aku telpon lagi”, kata Fitri.
”Ok deh. Aku tunggu lho, Fit”, ceria terdengar
dari nada bicara Andra.
Fitri bergegas menemui Mamanya di ruang keluarga.
Dia meminta ijin untuk mengambil formulir dengan Andra, tanpa Mamanya. Tak
disangkanya. Mamanya mengijinkannya pergi dengan Andra.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Andra sudah
mengeluarkan mobilnya dari garasi. Andra dan Fitri telah siap. Fitri
menghampiri Andra yang hendak membuka pintu mobil di balik kemudi. Fitri
menahannya.
”Aku aja yang nyetir ya, Ndra” kata Fitri.
”Masa cewek nyetirin cowok sih, Fit. Nggak enak
dong, Fit” balas Andra.
”Ah ayolah, Ndra. Kan jarang-jarang aku nyetirin
kamu. Ya, ya?” rajuk Fitri.
“Hhmm ya deh”, Andra pasrah. Andra masuk ke dalam
mobil dan duduk di samping Fitri yang ada di balik kemudi.
Beberapa menit kemudian mereka telah mendapatkan
formulir. Saat kembali pulang Fitri menyetir lagi. Di tengah perjalanan
tiba-tiba dari arah berlawanan melaju kencang sebuah truk. Andra dan Fitri yang
sedang asyik bercanda tak menyadari adanya truk itu. Setelah truk itu berada
lumayan dekat dengan mobil Andra, Andra baru melihatnya dan spontan berteriak.
”Awas, Fiiiiiit!!!”
Fitri kaget dan sontak membanting setir ke kanan
yang malah menuju jalur yang dilalui truk itu. Dan bruk!
”Fitriii!!!” teriak Andra di depan jenazah Fitri
di rumahnya.
Ya, Fitri telah tiada. Ia tak tertolong saat
kecelakaan truk itu. Andra sangat terpukul dengan meninggalnya Fitri.
Keesokan harinya setelah Fitri dimakamkan adalah
pengumuman kelulusan. Andra datang ke sekolah bergegas mencari nama Fitri
Ramadhani setelah ia mengetahui bahwa ia lulus.
”Fitri Ramadhani... LULUS!!” batin Andra.
”Fit, kamu lulus, Fit! Nilaimu lebih tinggi dari
aku, Fit. Aku kalah sama kamu, Fit” batin Andra sambil menangis dalam hati.
Di rumah, Andra mengisi formulir SNMPTN. Pilihan
pertama diisinya arsitektur. Pilihan kedua diisinya ilmu kesehatan masyarakat. Entah karena apa ia menuliskan pilihan
keduanya dengan pilihan kedua Fitri. Padahal ilmu kesehatan masyarakat sangat
jauh berbeda dengan ilmu komputer, pilihan kedua Andra. Tapi ia tak berniat untuk menghapusnya.
Andra telah menjalani tes SNMPTN. Ia sedang menunggu hasil tes
tersebut. Dan ketika ia membaca pengumuman hasil tes, yang dibacanya adalah:
“Andra Ramadhan... Ilmu Kesehatan Masyarakat... Universitas Indonesia”.
“Fitri, aku keterima di pilihan
keduamu, Fit. Kamu pasti
seneng kalo jadi aku. Aku
juga bakal seneng buat kamu, Fit. Meski aku harus berangkat kuliah nggak bareng
kamu, OSPEK nggak bareng kamu, dan nggak akan pernah bareng sama kamu lagi
selamanya, Fit. Kamu pasti keterima di pilihan pertamamu, arsitektur. Semangat
arsitektur UI ya, Fit!” batin Andra.
Komentar
Posting Komentar