Kamis, 5 Januari 2012
'Happy birthday to you... Happy birthday to you... Happy birthday, Mbak Tikaaa...'
Suara itu terdengar di depan rumah Mustika Mufarristi, salah satu sahabatku. Oppy dan akulah yang menyanyikan lagu tadi. Dia sungguh terkejut saat pertama dia keluar rumah dan mungkin yang pertama dia liat adalah cahaya-cahaya dari 2 lilin yang masing-masing berbentuk angka 1 & 7. Ya, 1 Januari lalu adalah hari ulang tahunnya yang ke-17. Hari itu aku ada di luar kota. Sehingga aku tidak bisa merayakannya tepat di hari ulang tahunnya itu. Padahal tahun-tahun kemarin kita biasa merayakan pergantian tahun bertiga. Pernah ditambah temen kita yang lain; Nonik, Fika, Puput. Tapi mereka jarang banget. Yang pasti, ya kita bertiga ini. Kadang di rumahku, kadang di rumah Mbak Tika. Sambil bakar jagung, pesta barbeque, nonton petasan pas di tengah malam, and others. Hari ini tanggal 5 Januari. Dan malam inilah akhirnya aku merayakan ulang tahunnya. Yah, tak apalah meski terlambat. Ya kan, Mbak Tika?! ;-)
Sore itu, sekitar jam 5 aku baru sampe rumah. Aku nekat pulang sendiri (Sama adekku, Lyna, sih sebenernya) dari Surabaya naek bis kota dari PGS (Pusat Grosir Surabaya) dianter Mama setelah sekian jam berburu novel di toko buku bekas; Pasar Blauran & Kampung Ilmu. Sebenernya aku sekeluarga baru pulang dari Madiun pagi hari. Karena Papa langsung kerja, yah terpaksa kita nggak pulang ke rumah, tapi pulang ke rumah Mbah di Surabaya. Aku bilang ke Oppy, aku pulang hari itu. Kalau pulang ke Sidoarjo nunggu Papa pulang dari kerja, pasti malem. Terus, kapan aku nyiapin surprise buat Mbak Tika?! Dan jadilah aku ijin Mama buat pulang duluan. Baiknya Mama, aku dibolehin. Yeey.. Makasih, Ma! :-) Di dalam bis, Lyna sms Papa, “Pa, aku sama Mbak Nurul pulang duluan naik bis kota”. Papa balas, “Masa’ liburan nggak ke rumah Mbah?”. Kalo nggak salah itu smsnya. Seingetku, setelah itu Lyna nggak bales sms Papa.
Di perjalanan aku baru tau, ternyata hari itu Oppy pergi ke Mojokerto. Tapi dia bilang sore ini pulang.
Aku & Lyna turun di halte depan SMAMDA (SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo). Setelah itu kami langsung naik angkot coklat, jurusan Tanggulangin. Kami turun depan Pabrik Sepatu ECCO. Kami naik becak untuk masuk ke perumahan kami.
Sampai rumah, aku langsung mandi. Oppy belum datang. Dia baru datang sekitar waktu Maghrib.
Mbak Tika sama sekali tak tau tentang surprise ulang tahunnya ini. Di ulang tahunnya yang lalu kami sama sekali tak pernah memberi kejutan seperti ini. Bahkan kado pun tak pernah sekalipun. Tak hanya di ultah dia. Tapi juga di ultah kami bertiga. Karena kali ini adalah ulang tahunnya yang 17, aku pengen kasih kado buat dia, sekaligus permohonan maaf tak bisa merayakannya tepat di hari jadinya. Dan aku merencanakan juga kejutan kue ulang tahun bareng Oppy. Setelah shalat Maghrib, aku jemput Oppy buat beli kue. Oppy yang sebelumnya tak tau bahwa aku menyiapkan kado untuk Mbak Tika, jadi ikutan mau kasih kado juga. Akhirnya setelah kami membeli kue (Black Forest tepatnya), Oppy berinisiatif menyiapkan kado dan baru membelinya malam itu. Sehabis beli Black Forest, kami mampir toko, membeli lilin. Oppy juga mampir membeli sesuatu untuk kado Mbak Tika. Setelah itu kami kembali ke rumahku untuk menyiapkan semuanya.
Akhirnya, satu Black Forest dan dua kado ulang tahun siap kami persembahkan (Ceille, persembahkan?!) untuk Mbak Tika. Aku membawa Black Forest ulang tahun. Oppy membawa dua kado kami tadi, dan juga korek api untuk menyalakan dua lilin yang bertengger di atas Black Forest. Aku dan Oppy udah siap.
Kami jalan ke rumah Mbak Tika. Di depan rumahnya terparkir mobil. Yang kami tau itu bukan mobil Mbak Tika. Berarti, ada tamu di rumah Mbak Tika. “Paling saudaranya”, Oppy bilang. Kami tetap melanjutkan misi. “Mbak Tikaa...”, kami bergantian memanggil dari depan pagar rumahnya. Tak ada yang menyahut. Padahal Bapaknya ada di ruang tamu ngobrol sama tamu itu. Mungkin terlalu asyik ngobrol. Ibunya pun aku yakin ada di dalam rumah. Tapi juga tak menyahut. Aku dan Oppy sekilas melihat ke garasi rumahnya. Kedua motornya tak ada. Dari luar, aku mendengar suara TV. Mungkin Ibunya sibuk di dapur & nggak denger suara kami. “Apa Mbak Tika pergi ya?”, Oppy angkat bicara. “Hah? Iya yah? Tapi sebelum Maghrib, dia sms-an sama aku, dia bilang mau ngerjain tugas di rumah”, aku mengingat. Saat itu mulai turun rintik hujan. “Tunggu di rumahmu aja”, Oppy berinisiatif. Kami kembali pulang (Kembali ke rumahku tepatnya).
Di rumah, aku deg-degan. Bingung harus apa nanti waktu kasih surprise ke Mbak Tika. Oppy juga begitu. “Kamu sms Mbak Tika, suruh kesini. Tapi pas dia di depan rumah nanti kita yang langsung ke rumahnya, kasih surprise”, aku usul. Beberapa menit, “Dia nggak bales”, Oppy bilang. “Coba aku yang sms”, aku berinisiatif. Setelah kami menunggu, “Iya, dia nggak bales. Apa iya ya dia pergi?”, aku bilang ke Oppy. “Ya udah deh, kita kesana aja”, lanjutku.
Sekali lagi kami bersahutan memanggil, “Mbak Tika..”. Setelah ke sekian kalinya kami memanggil, “Tika masih mandi”, Ibunya teriak dari dalam. Kami nggak kaget. Mbak Tika memang tak jarang mandi malam hari. “Huh, ternyata nggak pergi. Jadi dari tadi nggak bales sms, lagi mandi?!” batinku. Bapaknya & tamunya itu masih di ruang tamu. Mereka sebentar melihat keluar, siapa yang berteriak. Kami menunggu di depan rumahnya ditemani rintik hujan. Aku menutupi Black Forest dengan punggung tangan kananku, tangan kiriku memegang alas wadah kue itu.
Beberapa menit kemudian, Mbak Tika dengan rambut masih basah keluar dari pintu garasi, dia nggak mungkin lewat pintu depan, karena di ruang tamu sedang ada tamu. Mukanya kaget.
“Happy birthday ya... Make a wish dulu”, kataku sambil menyodorkan Black Forest dengan lilin-lilinnya yang menyala itu, bermaksud menyuruhnya meniup. “Ya Allah, aku terharu banget”, katanya berkaca-kaca gitu matanya. Dia berdoa. Ditiupnya lilin diatas Black Forest. “Happy Birthday ya, Mbak Tika...”, kata Oppy sambil ngasih kado-kado kami ke Mbak Tika. “Makasih ya”, Mbak Tika menerima kado-kado itu sambil memeluk Oppy. “Happy birthday ya, Mbak Tik”, aku mengucap lagi, kali ini sambil memeluk Mbak Tika. Dia balas memeluk. “Makasih ya”, katanya.
Ibunya mendengar riuh suara kami bertiga mungkin. Beliau keluar, juga dari pintu garasi. “Oalah dibawain ku tart...”, katanya. “Hehehe iya”, aku dan Oppy cengar-cengir. “Ya udah, dimakan sana bertiga. Mau dimakan disini apa dimana?”, beliau menawarkan. “Di rumahku aja nggak ada orang, cuma ada Lyna”, kataku menghasut (Hehehe). “Iya, Buk. Di rumah Nurul aja”, kata Mbak Tika. “Ya udah sana bawa ke rumah Nurul! Ini bawa duren dimakan bareng-bareng”, beliau masuk mengambil durian.
Kami jalan ke rumahku. Kami makan durian. “Enak kan”, Mbak Tika bilang. “He’em”, kataku sambil menguyah durian.
Setelah durian habis Mbak Tika memotong Black Forest. “Ayo makan”, kata Mbak Tika kenceng. Di tengah kami makan, Oppy iseng mencolek pipi Mbak Tika dengan krim Black Forest.
Aku jadi ikutan Oppy. Jadilah kami ‘perang krim’.
Setelah capek, mereka pamit pulang karna larut malam.
HAPPY BIRTHDAY, MBAK TIKA








Komentar
Posting Komentar