Langsung ke konten utama

Meninjau Masa

“Mengapakah zaman dahulu adalah zaman yang tenteram?” orang bertanya. Sedang zaman sekarang adalah zaman bingung, kacau dan cemas...? Banyak nian orang berharap, kiranya dimasa kemudian yang akan datang lebih berbahagia dan lebih tenteram hidup manusia ini.

Zaman yang disebut modern seperti sekarang ini, telah terlampau mendalam kesenangan dan kemewahan hidup yang berlebih-lebihan, sehingga sampai kepada foya-foya dan keroyalan yang menuju ke arah pemborosan. Jembatan yang menuju ke arah kerendahan, kerusakan dan keboberokan budi berlipat ganda banyaknya dan beraneka warna macamnya yang pada zaman dulu belum pernah terjadi dan belum pernah ada...

Pada zaman dulu belum dikenal orang apa yang dikatakan radio, bioskop, sandiwara, kereta api, musik, tari-menari, serimpi dan sebagainya seperti keadaan sekarang ini. Harta benda pun belm seberapa dipergunakan orang seperti sekarang, lebih banyak yang disimpan dari pada yang dibelanjakan kecuali apabila ada kepentingan. Hubungan antara manusia dengan manusia sedunia belum selancar seperti sekarang bahkan pada zaman dulu belum pernah merasakan nikmat kemerdekaan sebagai sekarang yang kita rasakan, namun apakah gerangan yang menyebabkan kebingungan manusia zaman modern ini...?

Kemungkinan besar sekali bahwa manusia ketenteraman dimasa dulu berpusat kepada keteguhan orang-orangnya salam memegang kepada faham kebenaran dan kepercayaan yang 100% dijalankan dalam hidup sehari-hari. Segala perbuatan jujur dijalankan menjadi adat kebiasaan, tidak menghajatkan kepada fikiran yang dalam dan sulit rumit... Akan tetapi pada masa sekarang segala sesuatu, harus tunduk kepada hukum modern yang sedikit banyak merusak seluruh faham kepercayaan dan adat istiadat yang baik, dan celakanya ialah yang sudah rusak itu belum dibangun atau diganti, sehingga merupakan vacuum. Kata-kata fanatik sering dilemparkan menjadi ejekan kepada orang-orang yang teguh idiologinya dan sebaliknya bagi orang yang fanatik kepada modern dikatakan “KONSEKWEN”.
          
Faham atau idiologi dan kepercayaan serta adat istiadat dirusak dan tidak dibangun apa-apa, pada hal tabiat manusia benci (moh dj.) dengan yang kosong (vacuum) itu dan benci pula berjalan dengan tak ada ketentuan tuntunan. Hal demikian yang mengakibatkan kebingungan dan kekacauan.
          
Pada zaman dulu yang menggembirakan sangat ialah agamanya, mereka iman kepada Allah swt., mengetahui Allah didalam waktu senang dan bersandar kepada Allah diwaktu senang dan duka, lebih bergantung kepada Allah apabila sangat susah dan menemui kesukaran, tolong menolong dalam kebaikan dan menjauhi atau menentang keburukan serta mengatasi segala kesulitan.
          
Kini timbullah zaman baru dan pemuda-pemuda sedang berkembang, terasalah angin zaman baru itu membawa kehancuran dan membasmi iman bagai topan yang menumbangkan bangunan-bangunan yang teguh kokoh, akibatnya kini manusia zaman sekarang tak mempunyai sandaran, tak ada bumi tempat berpijak, padahal manusia menghendaki perasaan yang tenteram dan tabiat manusia adalah angin bahagia, dengan kata-kata yang lebih tegas; bahwa agama itu adalah makanan jiwa. Apabila perasaan senang tenteram terhadap ketenteraman itu musnah, terasalah dalam jiwa manusia kekeruhan dan gelisah berhubung menghadapi perpecahan.
          
Sesungguhnya pendapat umum mengatakan; bahwa pancaindra itu ada lima, akan tetapi pun tidak salah kalau umpama dikatakan bahwa pancaindra itu ditambah menjadi enam; yaitu pancaindra lima. Demikianlah perbedaan antara kemajuan sekarang yang sangat dirasakan kebingungannya oleh manusia zaman sekarang.
          
Kurang lebih telah dua abad didunia barat, manusia atau dengan tegas masyarakat disana beriman benar-benar terhadap pengetahuan dan mereka yakin benar-benar bahwa peraturan politik dan ekonomi, keduanya kaasa dan mampu untuk menjadikan alam ini berbahagia... Akan tetapi setelah pengetahuan sampai pada puncaknya dan peraturan politik/ekonomi telah maju lebih jauh, namun belum tampak kebahagiaan bahkan kesengsaraan disusul dengan kesengsaraan yang lain, perang yang hebat disusul dengan peperangan yang lebih dahsyat, mulailah goyang iman mereka itu bahwa hanya pengetahuan yang disangka mencukupi untuk menjadikan umat manusia bahagia, pada hal ternyata tidak. Kini para cerdik dan sarjana disana berkeyakinan bahwa pengetahuan harus disampingnya ada agama atau lebih tegas bahwa pengetahuan harus diiringi oleh agama, akal harus disampingi hati dan logika membutuhkan hikmat.
          
Pernah seorang maha guru bertanya kepada maha siswa sekolah tinggi berkenaan dengan situasi sekeliling tahun 1930, “ Apakah yang akan terjadi kelak didunia kita ini...? “ Para maha siswa kebanyakan memberi jawaban : “ Titik beratnya adalah tergantung kepada pengetahuan “. Setelah pergolokan dunia menghebat dan bayangan atau persiapan untuk berperang dunia kedua telah mulai, bertanya pula maha guru kepada maha siswa sebagaimana yang pernah ditanyakan dahulu itu. Kini mereka ( maha siswa ) kebanyakan memberi jawaban : “ Bahwa hal itu terserah kepada pertolongan Illahi belaka, entah apa jadinya nanti “.
          
Ketahuilah! Bahwa iman kepada Allah berarti mengisi jiwa yang kosong, memberi wahyu ketenteraman serta memberi jaminan eratnya hubungan antara seorang dengan keluarganya dan tamah airnya atas dasar saling mempercayai dibawah lambaian hubungan antara segenap halayak dengan Illahi yang selalu menyertainya. Itulah sebabnya harus kita pupuk iman kita, sekalipun para manusia membenci dan inkar kepada Allah.
          
Selain dari pada itu adapula yang menyebabkan zaman sekarang ini adalah zaman bingung ialah kekosongan dari pada agama atau tidak sudi dengan agama, maka akibatnya tidak masuk didalam kamus akhirat didalam perhitungan hidupnya sebagai yang dikehendaki oleh agama. Orang-orang yang demikianrupa, hidupnya didunia tidak mengenal pahala dan tidak mengenal siksa... Hanya dunia inilah satu-satunya tempat bagi mereka. Nasib mereka hanya berputaar dalam keadaan didunia ini belaka, tidak mengenal balas. Itulah sebab timbulnya penyakit yang amat berbahaya dan keburukan atau kekacauan yang meluap-luap yang kian hari bertambah hebat dikalangan masyarakat manusia dan akibatnya membingungkan seluruh umat ; selanjutnya warga masyarakat banyak terjangkit penyakit egoisme yang berlebih-lebihan.
          
Manusia ingin sekali hidup hanya untuk dirinya sendiri saja. Didalam kalangan keluarga ia ingin mendapat bagian kesenangan yang lebih banyak dan kepahitan yang lebih sakit, seakan-akan amggaran belanja rumah tangga untuk dirinya sendiri, sedang keluarganya diabaikan begitu saja hingga kelaparan.
          
Diluar rumah tangganya ia mengerjakan sesuka hatinya menurut keinginan syahwatnya dan kesenangannya sekalipun berakibat buruk terhadap keluarganya bahkan terhadap tanah airnya. Orang yang demikian rupa, apabila menjadi pegawai tidak lain yang dicari kecuali pangkat tinggi, hidup mewah dengan tak memilih dijalan ; baik atau buruk, bahkan dengan dijalan penghianatan. Kadang-kadang sifat egois dipakai sebagai senjata asalkan terpakai maksudnya. Kalau manusia sudah demikian rupa sifatnya maka ia tidak mempunyai rasa tanggung jawab terhadap keluarganya, terhadap tanah airnya terhadap peri kemanusiaan yang damai, berdasar tolong menolong dan saling mempercayai.
          
Sungguh amat menyedihkan pada zaman sekarang ini. Pernah terjadi bahwa seorang maha guru membentangkan suatu uraian terhadap para maha siswa tentang keutamaan, keadilan dll. Kemudian diterangkan oleh maha guru itu, bahwa inilah satu-satunya wasilah ( batu loncatan ) kearah kebahagiaan hidup. Reaksinya terhadap maha siswa bahwa keterangan maha guru itu adalah kolot. Itu mungkin baik untuk zaman dulu. Adapun sekarang maka jalan kearah kebahagiaan adalah tangan besi dan demikian juga jalan kearah kemanfaatan individu, tak usah memilih jalan yang baik, jujur. Berdusta, berkhianat atau menipu boleh saja. Kalau benar demikian semboyan pada zaman modern ini, maka sungguh celaka bagi kita bersama yang hidup dalam alam suasana semacan itu.
          
Kalau benar sudah demikian, maka ketahuilah bahwa zaman sekarang ini adalah zaman serba payah, karena dihadapanmuu tak menemui teladan-teladan yang menggambarkan pengorbanan untuk kebaikan, tak ada gambaran keadilan, kesucian dan kejujuran yang mendapat perhatian; sebaliknya kamu melihat teladan-teladan atau contoh-contoh bagi orang yang memegang teguh akan kejujurandan keadilan hidupnya merana, melarat dan terlantar, akan tetapi orang yang menipu, berhianat berlaku serong mencapai tempat yang tinggi atau menjadi golongan hartawan.
          
Dengan contoh-contoh dan gambaran-gambaran yang sering tertampak dihadapan kita itu kemudian kamu berpaling dari pada undang-undang budi pekerti dan keutamaan, lepas dari pada kemanusiaan.
          
Marilah kita renungkan, kemudian tanyalah kepada diri sendiri ; adakah manusia yang paling beruntung itu ialah manusia yang tinggi pangkatnya? Banyak hartanya? Akan tetapi ia rusak jiwanya dan mati hayinya dan...?  bertanyalah kepada diri sendiri : “Manakah antara dua manusia yang lebih berbahagia ; manusia yang mati jiwa dan perasaannya akan tetapi banyak hartanya zonder memilih halal/haram ; ataukah manusia yang hidup hati dan jiwanya kemudian dengan begitu ia berperasaan bahagia, tenteram dan menerima atas pemberian Allah?
          
Bayangkanlah suatu perumpamaan bahwa sebuah jarum yang didalamnya berdiam seorang yang ingin merasakan hidup sebagai surga dunia, padahal disamping itu para keluarga seperti maling yang gemar merampas dan bunuh-membunuh untuk kemudian dibaginya.
          
Bayangkanlah misalnya, betapakah tentara dengan pemimpinnya yang masing-masing ingin selamat dirinya sendiri dan memberatkan beban kepada kawan-kawannya? Dapatkah mereka itu hidup dimedan pergolakan dengan tak ada gangguan? Dapatkah umat yang ingin hidup berbahagia padahal masing-masing dari mereka bernafsi-nafsi (individueel) dan mengacau kepada lainnya?
          
Gedung yang telah dibangunkan oleh para bapak adalah berkat dari pengorbanan-pengorbanan beliau. Tentara yang dapat mempertahankan tanah airnya adalah hasil dari para pengorbanan jiwa raga mereka untuk tanah air. Hidup umat pun tergantung atas pengorbanan dan tanggung jawab mereka bersama.
          
Dunia tempat hidup kita tidak lain hanyalah gambaran masyarakat yang dihasilkan dari pengorbanan umat yang telah mengorbankan kepentingan diri sendiri untuk kebahagiaan dan kebaikan negara dan dunia, kalau tidak demikian maka janganlah diharap ada kebaikan.
     
Andaikata zonder pengorbanan ayah dan ibu tak kan bangunlah rumah tangga ini, andaikata tak ada pengorbanan warga masyarakat, tentu tak kan wujud ketenteraman masyarakat. Kalau demikian, apakah patut pengorbanan mereka yang baik itu dibalas dengan keburukan? “Air susu dibalas dengan air tuba?
          
Selanjutnya hanya orang yang berjiwa rendah mencari kelezatan yang rendah pula. Hanya orang berjiwa rendah mencari kelezatan individu yang akibatnya sempit pandangan, akan tetapi kalau jiwa sudah luhur dan meningkat tinggi, maka kelezatannya adalah dalam kelezatan kawannya. Kebahagiaannya adalah kalau kawannya mendapat bahagia bersama-sama. Kata-kata ini atau pendapat ini sekalipun kuno, akan tetapi senantiasa baru isinya.
          
Sesungguhnya kebenaran itu tidak memandang masa dan tempat. Jadi ketenteraman pada zaman dulu, ialah sebab zaman dulu itu penuh dengan iman, yang memandang hidup ini untuk semua bukan untuk diri sendiri atau semua untuk dirinya.


Jaman dulu, Papaku sering bikin karangan dan dikirim ke redaksi koran atau majalah buat nambah uang jajan. Dan ini salah satu karangan Papaku jaman dulu. Makanya sekarang aku dan adikku yang SMP juga disuruh coba mengarang. Tapi karena jarang ada waktu buat cari inspirasi cerita, yang awalnya niat bikin cerita, malah nggak rampung di tengah jalan. 
*Mohon maklum kalau bahasanya agak susah dipahami.


Pilih kategori:


Recent Posts








Komentar