Langsung ke konten utama

Jemari Tak Lentik & Permata Langka

Harapan Jemari Tak Lentik (Part 1)

Jemari tak lentik ini telah berlama menanti. Harapan kosong yang mungkin tak akan diraihnya. Hingga saat ini permata langka tak pernah menyadari & mungkin sampai nanti tak kan pernah menyadari. Sejak bertahun hingga kini tetap menanti. Berangan-angan untuk memilikinya. Berkhayal terlalu tinggi untuk bernafsu memilikinya. Seakan mimpi panjang yang tak segera bangkit dari mati suri.

 Tapi keadaan yang ada sekarang membuatnya berpikir bahwa tak mungkin untuk memilikinya. Kesetiaan hati membuatnya tak mundur, akan tetapi tak juga membuatnya untuk maju sejak awal jemari tak lentik menginginkan permata langka itu. Entah mengapa tak satu pun hati yang lain bisa membuatnya menginginkan permata-permata atau perhiasaan lain.

Jemari tak lentik sejak awal telah menyadari bahwa harapannya mungkin tak kan tergapai. Bagaikan merintih, hati meratapi cinta yang bertepuk sebelah tangan. Cinta yang tak terbalas, balas mendapatkan kasih cinta permata langka. Menerjang kenyataan cinta terlarang yang sama sekali tak pernah jemari tak lentik inginkan untuk ia rasakan.

Ya, permata langka itu telah dimiliki oleh jemari lentik tak berkuku. Entah bagaimana caranya, jemari lentik tak berkuku bisa mendapatkan permata langka itu.  Dulu, ketika jemari yang lain bertanya, “apa yang kamu suka dari permata langka itu?”. Jemari tak lentik menjawab, “estetikanya”. Tapi, sekarang setelah sekian lama jemari tak lentik selalu terbayang-bayang permata langka di fikirannya itu, dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, “dimana estetikanya? Apa yang mengandung estetika darinya? Tak ada sedikit pun estetika dari permata langka itu”.

Ya, setelah berjamur mengimpikan permata langka, jemari tak lentik pun merasa permata langka mungkin tak akan memberi estetika/keindahan untuk dirinya jika ia memilikinya kelak. Karena dirinya pun adalah jemari tak lentik. Akan tetapi, jemari tak lentik masih tetap menanti & selalu berharap memiliki permata langka suatu hari nanti... <Be Continued, Insya Allah>         

Komentar